PENDAFTARAN TELAH DIBUKA, SILAHKAN KLIK MENU PENDAFTARAN! PENDAFTARAN GRATIS HINGGA 30 NOVEMBER 2014!
Tampilkan postingan dengan label Ada-Ada Saja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ada-Ada Saja. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 September 2014

Sekelumit Kisah di Balai Diklat Keuangan Manado


STAN, kenapa jadi favorit? Saya sendiri tidak tahu. Saya masuk sini karena tertarik dengan gratisnya. Ditambah orang-orang sekitar menggebu-gebu untuk mendukung saya habis-habisan agar gabung di STAN.
Setelah masuk di sini pun, ternyata enjoy juga.

STAN itu tidak semengerikan dari yang dibayangkan orang-orang. Tetapi STAN berhasil menciptakan para mahasiswanya merasa ngeri sendiri terhadap peraturan yang harus dipatuhinya. Yang secara tidak langsung menciptakan sebuah tanggung jawab. Yaitu Belajar dan patuh. Ancaman drop out menjadi jurus paling ampuh untuk mentakut-takuti. Berhasil membuat kikuk para mahasiswanya. STAN merupakan sekolah kedinasan di bawah Kementerian Keuangan RI. Tak perlu lagi saya menjelaskan lebih detail mengenai STAN. Karena bisa search di google. Dan banyak sekali informasi yang bisa kita dapat mengenai kampus ini.

Kita ulas dulu beberapa hal yang teman-teman kadang kurang tahu.
Pertama, tahu tidak kalau keterima STAN, tidak ngejamin kita bakalan menikmati indahnya kampus STAN pusat yang megah itu. Saya mahasiswa STAN, dan saya tidak pernah tau bagaimana rupa kampus STAN yang megah itu, selain lewat gambar-gambar. Saya mendapat jatah untuk melaksanakan pendidikan di Manado.

Kedua, tahu tidak kalaupun sudah diterima, tidak ngejamin kita bakalan lulus dengan santainya? Masih ada sistem D.O. Saya tidak begitu tahu bagaimana sistem D.O kalau di kampus pusat. Menurut kebanyakan orang sih lebih killer. Sebenarnya di mana-mana sama saja. Sistem D.O menjadi ampuh untuk menghimpun tanggung jawab mahasiswa. Meskipun kata D.O di sini jarang dibicarakan, tapi D.O tetap saja menjadi momok bagi semua mahasiswanya di seantero negeri.

Minggu, 21 September 2014

Bila Pemilu Seperti USM STAN

Bukan rahasia lagi bahwa Pemilu 2014 ini penuh kecurangan. Nyaris di semua provinsi temuan kecurangan begitu melimpah. Ini sekali lagi membuktikan bahwa UANGlah yang berdaulat, bukan rakyat. Istilah vox populi vox dei sudah tidak relevan lagi. Karena suara rakyat ternyata bisa dibeli. Kampanye “ambil uangnya, jangan pilih orangnya” juga tidak ngefek. Sebab faktanya mereka tetap mencoblos siapa yang rajin “memberi”.

Di kelurahan saya, nyaris semua caleg yang mendapat suara signifikan adalah mereka yang gemar “menyiram” massa. Nilainya berkisar dari Rp. 20.000,- s.d. Rp. 200.000,-. Malah yang mendistribusikan “kedermawanan” para caleg ini adalah lingkungan keluarga besar saya. Maka saya tahu persis berapa jumlah yang dikeluarkan para tim sukses. Padahal mereka tak mengenal sang caleg. Padahal ada caleg yang bandar judi. Padahal ada caleg yang ijazah sarjananya membeli. Padahal ada caleg yang dulu mereka benci setengah mati karena kelakuannya tak tahu diri.

Tak kalah hebat, hitungan matematika para penyelenggara negara pun begitu ajaib. Dalam foto-foto yang dirilis saksi salah satu parpol yang kemudian dishare politisi Golkar, Indra Jaya Piliang melalui akun twitternya, terlihat salah satu penghitungan: 5+2+2+5+9+16+1+3+1+1+1=135. Saya tidak tahu dimanakah KPPS ini belajar matematika. Mungkin mereka hendak menciptakan teori baru, pikir saya.
1397614341863823499
Sumber: Kultwit Indra Jaya Piliang
13976143951709750902
Sumber: Kultwit Indra Jaya Piliang

Pemilu Seperti USM STAN?
Melihat ini semua, banyak pihak yang pesimis dengan Hasil Pemilu. Jika kecurangan terjadi dimana-mana, maka kelak yang menjadi anggota dewan terpilih bukan kehendak rakyat yang sesungguhnya. Dengan begini, sampai kapankah –meminjam istilah Karni Ilyas- DPR kita mau bebas dari korupsi jika mereka menang dengan membagi uang dan berlaku curang.

Maka, izinkanlah saya mengandaikan atau –lebih tepatnya- mengusulkan sistem Pemilu kita ini diubah. Tak usah lagi pakai sistem pemungutan suara. Namun gunakan saja sistem seleksi terbuka. Persis seperti Ujian Saringan Masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (USM STAN ). Pola USM STAN sudah teruji merupakan salah satu metode rekrutmen mahasiswa paling kredibel dan bersih. Bila sejumlah sekolah kedinasan lainnya penuh aroma busuk taruna titipan, maka STAN relatif aman dari perkara demikian.
13976145481050345740
Kampus STAN Bintaro. Sumber: www.stan.ac.id

Cobalah Anda bayangkan jika tahapan Pemilu diganti persis seperti USM STAN. Sederhananya begini:
Pertama, para caleg menyetor biaya pendaftaran. Di sini mereka hanya membayar seratus ribu rupiah untuk syarat pendaftaran. Ini tentu menghemat pengeluaran para caleg.

Kedua, para caleg melakukan registrasi online dan pendaftaran ulang. Yang gagap teknologi atau belepotan mengisi biodata bakal belajar lebih giat agar tidak “oon”.

Ketiga, para caleg mengikuti ujian tertulis yang terdiri dari Tes Potensi Akademik dan Tes Bahasa Inggris. Ini mewakili seleksi kecerdasan intelektual.

Keempat, para caleg yang lulus TPA dan TBI, mengikuti ujian selanjutnya yaitu tes kesehatan dan kebugaran. Ini mewakili seleksi kesehatan jasmani.

Kelima, para caleg yang lulus Tes Kesehatan dan Kebugaran, mengikuti wawancara kerja. Ini mewakili seleksi kedewasaan psikologis, kematangan emosi dan kecerdasan interpersonal.

Dengan cara seperti ini, meski diikuti oleh –katakanlah- 100.000 caleg, setidaknya nanti para anggota dewan yang lolos adalah mereka yang benar-benar punya kemampuan. Bukan seperti sekarang ini. Ada caleg yang berbicara di depan orang saja gagap, tapi karena bapaknya mantan bupati dan punya sumber daya finansial kuat, maka ia sukses melenggang ke kursi empuk dewan.

Ini mungkin memang khayal yang berlebihan. Tapi memasukkan beberapa prinsip-prinsip seleksi USM STAN –dan tes masuk kerja di perusahaan swasta- bukanlah hal yang mustahil. Setidaknya, sistemnya tetap pemungutan suara namun memasukkan unsur-unsur tes di atas sebagai prasyarat menjadi caleg. Who knows? Ini negara demokrasi, kok.


(http://politik.kompasiana.com/2014/04/16/bila-pemilu-seperti-usm-stan-649320.html)