PENDAFTARAN TELAH DIBUKA, SILAHKAN KLIK MENU PENDAFTARAN! PENDAFTARAN GRATIS HINGGA 30 NOVEMBER 2014!
Tampilkan postingan dengan label Alumni STAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alumni STAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 September 2014

Apa untungnya masuk STAN?

Oleh: Kak Fuad Primananda, Spes Pajak 2010  
Kami rasa sudah terlalu banyak ya motivasi dan berbagai alasan untuk masuk ke kampus di bawah Kementerian Keuangan ini. Sebelum meneruskan tulisan ini, Kalian tentunya harus menyingkirkan sejenak pemikiran dari media-media yang mengekspos berita-berita kelakuan buruk alumnusnya. Eh, malah bahas media. Yaudah, STOP!
Kembali ke lap… maksud saya motivasi masuk STAN. Sebagai anak yang baru lulus SMA, SMK, MA, dan semacamnya, tentu merasa bangga. Bangga banget apalagi nilainya bagus. Tunggu dulu, sobat. Itu bukan apa2 sebelum kita masuk ke dunia yang lebih keras. Dunia kerja. Masuk ke dunia kerja tentu butuh ilmu. Bermacam2 ilmu bisa kalian dapatkan, tentunya dengan usaha dan doa kalian. STAN menawarkan Ilmu mengenai keuangan negara. “Apaan tuh? Terus, aku udah bertahun-tahun sama Fisika, Kimia—yang anak IA terutama—jadi merasa aneh. Merasa gak guna ya ilmunya. Namun, tahukah kalian kalau yang ilmu-imu yang diajarkan disini membutuhkan banyak keahlian menghitung dan logika. apalagi Spesialisasi Pajak dan Akuntansi. Penulis ini spes Pajak, ehehe…Selain itu, yang masuk ke kampus ini juga macam3 kok. Yakinlah, yang sesuai kriteria sama2 punya kesempatan!. Lagipula, Gak Cuma ilmu keuangan negara sobat. Di kurikulum masih ada budaya nusantara… keliling Nusantara dengan mempelajari budaya mantap juga kan?
Ada pelajaran etika-etika juga yang secara khusus diajarkan di mata kuliah. Pendidikan Agama apalagi. Pastilah tidak ketinggalan.
Lalu, apa untungnya masuk STAN? Sini sobat, aku beritahu kalau kuliah disini GRATIS!!! Orang tua mana yang gak mau anaknya sekolah gratis. Jadi, kalau di tv protes sekolah gratis cuma omong kosong,  Kementerian Keuangan membuktikannya. Selama tidak berganti kebijakan, STAN tetap gratis. Apalagi orang tua pasti ingin anaknya menempuh pendidikan yang bagus, dan prospek menjanjikan, Insya Allah. Lulusan STAN akan ditempatkan. Bukannya mencari kerja seperti lulusan lainnya. Mungkin kalian melihat sekolah2 lain yang dibawah Kementerian/Lembaga. Ambillah contoh Akpol, IPDN. Disana harus di dalam asrama, dituntut ini itu, menurut pada atasan. Pakai seragam khusus. Masih banyak lagi. Disini kalian seragam intinya atas cerah bawah gelap celana bahan, kecuali spes Bea Cukai; mereka harus pakai seragam khusus—semi militer gitu loh. Gak usah asrama, pilih kost sendiri.*syarat dan ketentuan berlaku:baca aturan tata tertib STAN.
Kurang enak gimana? Pengen berekspresi? Disini bermacam2 deh, Keagamaan, olah raga, music, teater, dll. Kalian yang pengen memperdalam belajar Agama? Wah, banyak sekali sarananya. Di lingkungan Spesialisasi sendiri ada lembaganya. Misal pajak ada UMMP, Akuntansi ada IMMSI. Masjid-masjid di sekitar STAN juga punya agenda pendalaman ilmu agama sendiri. Mulai kajian, ngaji bareng, mabit, liqo’ dan semacamnya. Ada pula organisasi eksternal kampus seperti IMAN. Ikatan Mahasiswa Nahdliyin. Kami mengajak sobat untuk pengajian ala santri. Insya Allah menyenangkan dan nambah ilmunya.
Setelah baca kok masih bersikukuh karena ga sesuai keinginan. Bismillah, coba berpikir masa depan. Bila sudah mantap dengan pilihan anda, pilihlah itu. Semoga yang anda tentukan dan anda pilih mengantarkan pada kebaikan. Semoga SUKSES karir sobat sekalian!
(http://www.siap-stan.com/2013/11/kisah-motivasi-masuk-stan_5.html)

Minggu, 21 September 2014

Semoga Tuhan Berikan yang Terbaik untuk Kita

Oleh: Kak Meini Wahyu Utami, Spes Anggaran 2010



Bismillahirrokhmanirrakhim

Kalau sedang sendirian di kost, duduk sendirian di teras bagian atas kost-an seringkali mengingatkan kembali pada memori  tahunan lalu. Ingat keluarga di rumah, zaman-zaman SMA, dan momen ketika menjadi  bagian dari barisan panjang pendaftar USM STAN pada senin, 4 Mei 2010 lalu di BDK Jogjakarta. Rasanya baru kemarin momen itu berlangsung, dan ternyata sudah bertahun-tahun. Waktu memang terpotong detik demi detik tanpa sy selalu menyadarinya.

Oh ya teman-teman dan adik-adik yang mudah-mudahan selalu dalam lindungan Allah SWT, perkenalkan nama sy Meini Wahyu Utami, boleh kalau mau manggil Mei, Meini, Meimei, atau Utami, selama masih memiliki makna yang baik dan nyambung dg nama sy, insya Allah sy siap dipanggil dengan nama tersebut hehe. Asalnya dari Boyolali, Jawa Tengah. Kalo yang belum tahu, Boyolali itu sebuah kabupaten yang cukup kecil yang juga sering disebut Kota Susu karena termasuk salah satu penghasil susu sapi terbesar layaknya di Lembang (Bandung), sejuk, ada Bandara Adi Soemarmo juga di situ, dekat dengan Gunung Merapi, bisa dibilang Tiga Serangkai dengan Solo dan Klaten. Dekat juga dengan Semarang dan Jogjakarta, nah kalau belum tau juga insya Allah belum dihapus sama Pemerintah, jadi masih ada di Peta J.

Sejak kecil hingga lulus SMA, sy tinggal bersama keluarga yang sangat sy cintai dan sangat bersyukur dengan keberadaannya, di tempat tinggal sy di Boyolali. Namun meskipun banyak mengonsumsi singkong, hingga kini belum  terbit buku berjudul “Meini anak singkong” hehe. Dan setelah lulus SMA sy berkesempatan menjadi anak kota-an, karena bersekolah di sini.

Kuliah, untuk satu orang bisa jadi kuliah adalah hal yang sangat biasa, untuk satu orang yang lain bisa jadi menganggap kuliah adalah sesuatu yang tidak harus, penting ga penting, sementara untuk sy sendiri kuliah adalah salah satu cita-cita sy sejak dahulu. Bukan ihwal gelar yang diperoleh setelah lulus, bukan pula karena sebuah prestise yeng tinggi ketika bisa kuliah, namun kuliah merupakan salah satu cara untuk terus menimba ilmu,  salah satu bentuk ibadah dan syukur sy, dan salah satu bentuk ikhtiar sy agar menjadi orang yang berilmu.

Alhamdulillah sy memiliki orang tua yang sangat mendukung pendidikan anak-anaknya, Bapak yang dulu seorang PNS dan sekarang sudah memasuki masa pensiun, Beliau adalah sosok bapak yang sangat tegar dan berjuang keras untuk menghidupi keluarga kami. Salah satu prinsip beliau adalah ‘ketika Bapak nanti tidak bisa membekali dan mewarisi harta untuk kami, setidaknya Bapak telah berjuang untuk membekali putera-puterinya dengan ilmu’, semoga dengan ilmu dan pendidikan yang kami miliki, kami memiliki pribadi, pemikiran dan kehidupan yang jauh lebih baik daripada Bapak dan Ibu. Dan Ibu sy, Beliau dulu sampai sy lulus SMA adalah seorang ibu rumah tangga tulen, hampir seratus persen waktunya di rumah untuk mengurus keluarga, baru di beberapa tahun terkhir ini beliau menyibukkan diri dengan bertani, selain ada yang dihasilkan juga sebagai sarana hiburan kata beliau. Beliau sering bilang “kalau dihitung untung ruginya ya mungkin ga balik modal, tapi ya kalau ada yang ditanem itu bisa lebih ayem(tenang), refreshing”, insya Allah.

Kisah Perjuangan Masuk STAN (2)

oleh : Satria Arga Nugraha Kusumayudha


Tak Pernah disangka, berawal hanya dari ucapan teman-teman ayah, sempat terlupakan, di tengah-tengah keterbatasan, jalan itu dibukakan lagi oleh-Nya

12 Juli 2006. Bertepatan dengan ulang tahun ayah saya, teman-temannya semasa SMA datang ke rumah. Saat itu mereka bercerita tentang anak-anaknya yang sebagian besar seumuran dengan saya. Saya yang ketika itu baru saja menginjak kelas 9 SMP diberikan saran oleh Beliau-beliau untuk setelah lulus agar masuk di almamater ayah saya den teman-temannya itu. Saya hanya mengiyakan sebab saat itu saya belum ada pikiran sama sekali mengenai SMA mana yang akan saya jadikan tempat persinggahan menuntut ilmu berikutnya. Setelah itu, mereka mulai membahas masalah dunia perkuliahan. Saya yang berada disana akhirnya kembali diberi saran untuk masuk di PTN-PTN yang terkenal di negeri ini dengan berbagai pertimbangan-pertimbangan yang menggiurkan menurut saya pada waktu itu. Dan tak disangka, tersebutlah sebuah nama. STAN. Sempat heran saya, yang lain memakai awalan un- atau U- sebagai singkatan universitas, kini ada nama universitas yang tidak memakai U- atau un- . Setelah diberikan penjelasan mengenai STAN, saya sedikit mulai tertarik sebab iming-iming ke depannya sangat menggiurkan contohnya langsung kerja setelah lulus tanpa harus melamar pekerjaan dan uang kuliahnya gratis.

Hal-hal tersebut mengenai STAN masih terngiang di dalam pikiranku hingga dulu sempat di saat saya dan teman-teman saya sedang mengobrol di kelas mengenai tujuan SMA, tempat kuliah, dan cita-cita, saya tanpa ragu menjawab ingin kuliah di STAN. Mereka semua bertanya-tanya, “apa itu STAN?”. Saya kembali menjelaskan apa yang saya dengar dari penjelasan ayah dan teman-temannya dan saya beri penekanan di “kuliah gratis” dan “langsung dapat kerja”.

Keesokan harinya, mereka semua berubah pikiran mengenai universitas mana yang akan mereka masuki di masa yang akan datang. STAN jawab mereka. Saya sempat heran bagaimana bisa dalam semalam mereka bisa berubah pikiran? Padahal sebelumnya kami semua sempat eyel-eyelan saling membanggakan kampus cita-citanya. Orang tua mereka ternyata yang memberi gambaran tentang STAN setelah teman-teman saya menanyakannya.

Hebat efek 4 huruf ini : S.T.A.N.
Agustus 2008. Pernahkah terbayang atau merasakan saat kamu jatuh dari tempat yang tinggi dan untuk bangkit rasanya tidak mungkin. Saya dan keluarga saya pernah mengalaminya. Ayah saya keluar dari pekerjaannya akibat berselisih dengan bosnya. Ibu saya memang tidak bekerja. Adik saya baru saja masuk SMP dan biayanya tidak murah. Jangan dibayangkan jika kami mempunyai banyak tabungan. Kalian pernah merasakan lebaran tanpa mempunyai baju baru? Itu saya. Pernah merasakan HP kamu paling tertinggal di dalam kelas? Itu saya. Uang saku saya semasa SMA hanya lima ribu rupiah. Memang masih ada motor yang dibeli ayah saya sewaktu kelas 3 SMP, namun dengan uang saku lima ribu sehari, saya dituntut untuk dapat membeli bensin motor saya dengan sisa ung saku saya sendiri sebab orang tua saya sudah tidak bisa memberi lebih.

CERITA PERJUANGAN MASUK STAN

CERITA PERJUANGAN MASUK STAN

(KISAH BOCAH ALUMNI PESANTREN PENGEN MASUK STAN)

2008, awal perjuanganku ingin masuk Sekolah tinggi terrr-Favorit se-Indonesia ini.
Yak, kisah ini dimulai seketika itu juga setelah aq lulus dari Madrasah. Aq dari Madrasah, bukan Madrasah Aliyah pada umumnya yang sama dengan SMA, yang memebedakan adalah jumlah mata pelajaran agama lebih banyak. Pernah dengar pesantren? Pasti pernah! Pernah tau pondok? Denger-denger ada siih. 

Mungkin itu yang terblesit di benak kalian tentang pesantren dan pondok. Anak pondok memang bisa masuk STAN? Bisa, tapi gak sebanyak anak SMA. Kenapa? Karena selama mereka belajar di bangku SMA (baca:Pondok) tentu sangat berbeda dengan paa yang dipelajari di SMA yang memang kurikulumnya tentang semua mata pelajaran umum seperti MTK, Fisika,Kimia, dll. Bahkan saya yang dari pondok pun, yang tidak pernah belajar fisika, kimia, biologi, geografi, dll karena semua mata pelajaran yang saya ganyah ketika di Pondok adalah semua tentang agama, bahkan text book nya pun semua berbahsa arab. Kalo dipikir-pikir apa nyambung dari pondok masuk di STAN? Nyambung-nyambung aja, asal bisa disambungkan, hehehee.  Ketika daftar USM petugasnya terheran lihat ijasah ku karena lain dari yang lain, mata pelajarannya aneh, arab-arab gituu,, hehe. Alhamdulillah ternyata bisa lolos seleksi USM STAN. Nah, untuk kalian jangan minder, dari manapun asal sekolah kalian, semua punya peluang diterima di STAN. SMA, MAN, SMK, SMEA, STM, SMF, teman sekelas saya juga ada yang dari SMF, SMK, STM, dll. Semua berpeluang! Obrolannya kok jadi ttg pondok..? hehee ini baru opening, simak kisah ku yang bener-benar kisah pejuang USM STAN sejati, siap-siap menyimak yak J

Jeng jeeng,,,setelah selesai UN. Langsung saya tak pikir2 lagi mau ngapain, karena saya tau, saya ga banyak bekal mata pelajaran umum, ilmu matematik, pasti kurang dibandingkan dengan yang dari SMA. Mulai saat itu pula aq belajar, belajar, dan belajar. Belajar apa? Belajar BUKU USM STAN. Udah ga ada yang lain. Beneran! Yang mau masuk STAN, udah ga perlu belajar apapun, cukup buku USM STAN aja dah. Belajar itu tiap hari, tiap jam, tiap pagi, siang, sore, makan dibawa, sambil tidur dikelonin bukunya, kayak aq dulu juga gitu, hehehe. Mei 2008 aq mendaftar USM STAN di Jogja karena aq asli Solo dan yang paling dekat ke Jogja. Ikut tes bulan JUNI kalo gak salah inget, tempat test nya di Universitas Sanata Dharma Jogja. Sebelum tes aq juga ikut bimbingan belajar USM selama 2 minggu. Kurang lebih selama 3bulan sejak selsai UN samapi hari H USM STAN aq belajar, dengan gigih, rajin, penuh harap diterima, rajin doa, minta doa ibu bapak dan orang2 terdekatku, baca2 terus materi USM sampe aq hapal banget nget nget tipe2, jenis soal, jumlah soal, materi, pokoknya semua yang ada di buku USM aq udah apal, hehe. L-E-B-A-Y! emang kudu lebay belajarnya loo kalo kalian mau lolos USM stan. Assyyeeek ! saat pengumuman USM 2008… dag dig dug. Dag dig dug !! aq ke warnet, jam 10 udah nunggu di warnet utk melihat pengumuman jam 11 siang itu. Aaah, rasanya gak karuan hatiku. Hasilnya gimana? Udah belajar sebanyak itu lulus gak? Jawabannya ENGGAK ! malu? Sedikit siih. Abis itu putus asa ga mau nyoba USM lagi? Tetep harus coba! yak, inilah takdir Alloh, ditahun ini saya belum lolos USM STAN di tahun 2008. K-a-s-i-h-a-n sekali yaa aku. Gak papaa masih ada tahun depan menanti J
Episode kedua, -wuiiih uda kaya sinetron aja nih-hehee “Tahun 2009…perjuangnku mengikuti USM STAN 2009”


Karena keinginanku yang memang sudah sangat ingin kuliah di STAN, aq coba lagi USM STAN 2009 ini. Mungkin berbeda-beda tiap orang apa alasan ingin masuk STAN. Kalo aku, kembali ke background sekolahku, jujur aq sama sekali ga mampu ngerjain soal SNMPTN. Kenapa? Ga usah ditanya lagi, aq ga belajar mata pelajaran umum, mana bisa disodorin ujian SNMPTN yg benar-benar materi yang diujikan materi sekolah SMA. Hadeeeh, bisa botak nih kepala belajar SNMPTNL  Mending balajar USM STAN iya gak sih? Secara materinya matematika dasar, bahasa Indonesia, bahasa inggris, pengetahuan umum, logika, tes gambar, dll yang memang sama sekali tidak berkaitan dengan materi SMA. Iya kan? Jadi menurutku USM STAN itu fleksible banget lhooo, semua sekolah bisa ikut, semua orang pastilah bisa ngerjain, cuman bedanya mana yang bisa mengerjakan sola lebih banyak dan benar dalam waktu yang sama. Nah, ini fungsinya belajar BUKU USM STAN, belajar aja terus isi buku itu, sampe hapal, sampe tau cara mengerjakan soal hitunga paling cepat, biar bisa mngerjakan lbh cepat dan benar, otomatis skor kita juga akan tinggi. UMS 2009 ini masih di Jogja. Aq sih santai-santai aja pas USM 2009 ini. Kenapa? Kan tadi udah aq bilang, aq udah belajar buku USM sampa hapal,, hahaha seriusan, aq kali ini santai, kayak udah bosan pegang buku USM, effort banyak berkurang karena menurutku aq udah matang lah dengan cara belajar tahun 2008 dulu. Tapi yang pasti semangat ku masih full, gak setengah setengah! Target utama musti masuk STAN, gak mau melewatkan lagi kesempatanku. Pertama gagal, jangan ampe dong yang kedua ini gagal lagi


Sambil daftar USM tahun ini, aq juga daftar di salah satu perguruan tinggi di Solo. Apa tau ga? UNS? Bukan. UMS ? juga bukan. Trus apa? Aq daftar di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN). Apa itu? Banyaaak banget yang ga tau kampus ini. Aduuh sedihnyaa L aq kuliah dikampus yang ga terkenal, hehee, biasa aja sih ! beda jauh kan dengan STAN yang seluruh Indonesia ini tau. Aq sih mikirnya kalo-kalo di tahuan ini nasib ku sama seperti ditahun kemarin, semoga aja tidak. Masa iya aq mau nganggur lagi? Pasti enggak mau kan.

Mahasiswa UI versus Mahasiswa STAN

Pagi sahabat semua, setelah dua hari bercengkerama dengan keluarga, kini tiba saatnya saya menyapa dan berinteraksi dengan kompasianer semua. 

Sungguh terkejut saya akan animo masyarakat termasuk penduduk kompasiana akan persoalan pajak ini. Tulisan-tulisan tentang pegawai pajak menghiasi tulisan terpopuler hari dan minggu ini. Antara lain berturut-turut berdasar waktu posting Damn! Uang Gua Dimakan (Ditilep) Orang Pajak! (kompasianer Streetlearner), Gayus Vs Tyas (Tyas Tlc), Mari Mengenal Pegawai Pajak Lebih Dekat (Lanjutan Tulisan Bung Minami) oleh Dewiwardhana, dan tadi malam Tidak Semua Orang Pajak Sebagaimana Diduga Banyak Orang (kompasianer Abutholib). Menurut saya ini baik untuk penyeimbang dan pencerahan bagi pembaca, tidak lantas tergiring opini media-media terutama televisi yang kadang kurang berimbang. Namun, kita juga jangan anti-kritik, terima kenyataan yang ada, tidak perlu lari dari tanggung jawab.
Untuk memahami akar permasalahan kasus tersebut, ada baiknya kita simak ulasan berikut berdasar kisah nyata yang saya hadapi di lingkungan keluarga kami, dan barangkali termasuk keluarga-keluarga lain mayoritas warga Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Pilih Mana ?

Bagaimana jika dua perguruan tinggi terbaik negeri ini bertemu kemudian diadu? Bukan dalam pengertian anarkis semacam bentrokan dengan batu dan api. Tapi dari segi prestasi dan kiprah alumninya. Yang satu merupakan perguruan tinggi negeri (PTN) ‘sepuh’ di Indonesia, satu lagi perguruan tinggi kedinasan (PTK) ‘bau kencur’, baru berdiri pada tahun 1967.
Pada tulisan sebelumnya telah saya kemukakan profil singkat STAN, kini saatnya kita menengok UI, kampus si ‘jaket kuning’ di bilangan Salemba DKI Jakarta dan Depok Jawa Barat.

Profil Singkat Universitas Indonesia (UI)

UI berdiri pada tahun 1849 dan merupakan representasi institusi pendidikan dengan sejarah paling tua di Asia. Telah menghasilkan lebih dari 400.000 alumni, UI secara kontinyu melanjutkan peran pentingnya di level nasional dan dunia. Bagaimanapun UI tidak bisa melepaskan diri dari misi terkininya menjadi institusi pendidikan berkualitas tinggi, riset standar dunia dan menjaga standar gengsi di sejumlah jurnal internasional nomor satu.
Dengan predikat sebagai kampus terbaik negeri ini, UI secara aktif mengembangkan kerja sama global dengan banyak perguruan tinggi ternama dunia. Beberapa universitas terkemuka yang saat ini tercatat memiliki perjanjian dengan UI diantaranya adalah : Washington University, Tokyo University, Melbourne University, Sydney University, Leiden University, Erasmus University, Kyoto University, Peking University, Tsinghua University, Australian National University, and National University of Singapore.
Selain itu, UI saat ini juga memperkuat kerjasamanya dengan beberapa asosiasi pendidikan dan riset diantaranya: APRU (Association of Pacific Rim Universities) dengan peran sebagai Board of Director, AUN (ASEAN University Network), and ASAIHL (Association of South East Asia Institution of Higher Learning).
Secara geografis, posisi kampus UI berada di dua area berjauhan, kampus Salemba dan kampus Depok. Mayoritas fakultas berada di Depok dengan luas lahan mencapai 320 hektar dengan atmosfer “green campus” karena hanya 25 persen lahan digunakan sebagai sarana akademik, riset dan kemahasiswaan, sisanya 75 persen wilayah UI bisa dikatakan adalah area hijau berwujud hutan kota dimana di dalamnya terdapat 8 danau alam. Sebuah area yang menjanjikan nuansa akademik bertradisi yang tenang dan asri.